Hari Bumi di Sidoarjo: Antara Lumpur, Limbah, dan Pilihan yang Kita Ambil
Sidoarjo bukan wilayah yang asing dengan isu lingkungan. Kita pernah menjadi sorotan dunia karena tragedi lumpur panas, sekaligus tumbuh sebagai kawasan industri dan permukiman yang dinamis. Pertumbuhan ini membawa konsekuensi nyata: persoalan sampah rumah tangga, tekanan terhadap sungai, penurunan kualitas udara, hingga banjir musiman yang terus berulang.
Di tengah situasi ini, kita sering menggantungkan harapan pada solusi besar. Padahal, krisis lingkungan tidak hanya lahir dari sistem yang besar, tetapi juga dari kebiasaan kecil yang kita ulang setiap hari. Sampah yang menyumbat saluran dan limbah yang mencemari lingkungan sering kali berawal dari rumah kita sendiri.
Lebih dalam lagi, kepedulian terhadap lingkungan bukan hanya soal sosial atau kebijakan, tetapi juga bagian dari amanah spiritual. Sebagai khalifah di bumi, menjaga keseimbangan alam adalah tanggung jawab yang melekat pada setiap manusia. Merawat lingkungan berarti menjalankan peran tersebut dengan kesadaran, bahwa apa yang kita lakukan hari ini akan dipertanggungjawabkan, tidak hanya kepada sesama, tetapi juga kepada Sang Pencipta.
Pada akhirnya, Hari Bumi bukan sekadar tentang kepedulian, tetapi tentang pilihan. Kita mungkin tidak bisa mengubah masa lalu, tetapi kita sepenuhnya menentukan arah masa depan. Dan masa depan Sidoarjo akan dibentuk dari kebiasaan yang kita pilih hari ini, dari sesuatu yang dekat ; rumah kita masing-masing.
Selamat Hari Bumi, 22 April 2026
Yudistiro
Ketua Bidang Energi, Lingkungan Hidup dan Perubahan Iklim DPD PKS Kabupaten Sidoarjo
