Berita Terbaru

Hari Bumi di Sidoarjo: Antara Lumpur, Limbah, dan Pilihan yang Kita Ambil

Gambar
Hari Bumi kembali hadir, dan seperti tahun-tahun sebelumnya, ia sering dirayakan dengan narasi penuh harapan. Namun bagi Sidoarjo, Hari Bumi seharusnya tidak berhenti pada simbol. Ia mesti menjadi cermin yang jujur: sejauh mana kita benar-benar belajar dari pengalaman, dan sejauh mana kita masih sekadar beradaptasi dengan masalah. Sidoarjo bukan wilayah yang asing dengan isu lingkungan. Kita pernah menjadi sorotan dunia karena tragedi lumpur panas, sekaligus tumbuh sebagai kawasan industri dan permukiman yang dinamis. Pertumbuhan ini membawa konsekuensi nyata: persoalan sampah rumah tangga, tekanan terhadap sungai, penurunan kualitas udara, hingga banjir musiman yang terus berulang. Di tengah situasi ini, kita sering menggantungkan harapan pada solusi besar. Padahal, krisis lingkungan tidak hanya lahir dari sistem yang besar, tetapi juga dari kebiasaan kecil yang kita ulang setiap hari. Sampah yang menyumbat saluran dan limbah yang mencemari lingkungan sering kali berawal dari rumah ki...

Fatherless Phenomenon

Fatherless phenomenon #1

Imroatul Qoniah,S.Si, M.Si
Ketua Divisi Kajian strategis
Bidang Perempuan dan Keluarga


Pasti sudah pada kenal istilah diataskan?. _Fenomena Fatherless_ dikaitkan dengan minusnya kehadiran ayah baik secara fisik, psikologis, atau emosional dalam pengasuhan anak. Ketidakhadiran tersebut dapat terjadi karena perceraian, kematian, pasif dalam pengasuhan, terlalu sibuk bekerja atau main _gadget_ , patriarki, dll.

Kebanyakan persepsi saat ini, ayah berkewajiban hanya sebagai pencari nafkah sehingga absen dalam proses tumbuh kembang anak (Fajarrini dan Umam, 2023).

Berdasarkan data UNICEF tahun 2021, Indonesia menempati urutan ke-3 di dunia sebagai fatherless country dan 20,9 % anak tumbuh tanpa peran aktif ayah.

Ketidakhadiran ayah terutama di usia 0-5 tahun berkaitan dengan potensi depresi yang dialami anak. Menurut Journal of Affective Disorders, 2022 (Oct. 1: 314. 150-159), _fatherless brain_ atau hilangnya koneksi otak ke dunia luar alias depresi akan menjangkiti anak yang fatherless 3,2 kali lebih tinggi hingga ia dewasa. Di jurnal ini juga menyampaikan bahwa kehadiran ayah akan membantu anak menyayangi orang lain (epigenetik). Sedangkan kehadiran ibu membantu  anak menyayangi diri sendiri (genetik) dan memiliki _value_ diri.

Cinta ayah membentuk tanggung jawab, kemandirian, disiplin, dan integritas. Tanpa cintanya, anak akan susah mengambil keputusan, kurang berani, dan tidak tegas terutama bagi anak laki-laki. Sosok ayah menjadi hal yang menakutkan dan enggan ia dekati.

Dalam POV anak perempuan, ayah adalah cinta dan perlakuan. Tanpa hadirnya ayah, anak akan takut dalam memilih pasangan hidup nantinya karena trauma dengan sikap ayahnya. Ia dewasa dengan luka.

Darurat fatherless ini semakin menjadi-jadi karena kebanyakan yang mengikuti kajian parenting adalah mayoritas ibu-ibu. Sehingga ayah makin tidak menyadari perannya.

Luka pengasuhan akibat fatherless itu nyata!

#BipekaSidoarjo
#SelamatHariAyah

Berita Populer

Gerakan Kepanduan Indonesia : Dari Scouting Movement hingga Kepanduan PKS

Pengamanan Dalam Sejarah Islam,Strategi Bela Negara Ala Rasulullah SAW

PKS Sidoarjo Dorong Program Gizi Nasional: Lukman Hadi Pantau Kesiapan Makan Bergizi Gratis di Krembung