Berita Terbaru

Bipeka PKS dan PD Aisyiyah Sidoarjo Perkuat Kolaborasi Program Perempuan dan Keluarga

Gambar
  Bidang Perempuan & Keluarga (Bipeka) DPD PKS mewujudkan agenda silaturahim kepada Pimpinan Daerah (PD) Aisyiah Kabupaten Sidoarjo. Digelar pada hari Sabtu, 31 Januari. Ditemui oleh Ibu Muflihah sebagai Ketua PDA dan beberapa pengurus di Gedung Pimpinan Muhammadiyah kompleks pendidikan UMSIDA.  Sharing program keunggulan masing-masing menjadi agenda utama silaturahim. PD Aisyiah tengah fokus mengadakan pembinaan dan pendidikan bagi anak-anak inklusi dengan mendirikan 3 Sekolah Luar Biasa (SLB). Dalam proses pembinaan tersebut terdapat kendala payung hukum berupa Perbup yang hingga saat ini belum diterbitkan untuk kesetaraan dan keadilan bagi kaum disabilitas.  Program lain yang juga pernah ditekuni oleh PDA yakni pembinaan komunitas ODHA dan anak jalanan. Namun resources yang terbatas menjadi kendala bagi keberlangsungan program tersebut. Sementara itu, Ketua Bipeka PKS mengenalkan program unggulan Rumah Keluarga Indonesia (RKI) dengan ragam bentuk kegiatan di dalamn...

Bangun Kembali Peran Ayah, PKS Ajak Masyarakat Kokohkan Fungsi Keluarga untuk Atasi Fenomena Fatherless

 

JAKARTA — Fenomena fatherless atau ketidakhadiran figur dan peran ayah dalam kehidupan anak, kian menjadi persoalan serius di Indonesia. Mengutip data olahan Kompas dari data Mikro Survei Sosial Ekonomi Nasional Badan Pusat Statistik (Susenas BPS) Maret 2024, anak Indonesia yang fatherless ini setara 20,1 persen dari total 79,4 juta anak berusia kurang dari 18 tahun. Dari 15,9 juta anak fatherless, 4,4 juta anak tinggal di keluarga tanpa ayah. Sementara itu, 11,5 juta anak lain tinggal bersama ayah dengan jam kerja lebih dari 60 jam per minggu atau lebih dari 12 jam per hari.

Menanggapi fenomena ini Ketua DPP PKS Bidang Perempuan dan Keluarga (BIPEKA), Eko Yuliarti, mengatakan bahwa masyarakat harus lebih peduli dengan kehadiran ayah di keluarga.

“Ayah merupakan sosok utama dan penting dalam keluarga. Ia adalah sosok laki-laki pertama yang dikenal oleh semua anak di dunia. Bersama dengan ibu, ayah menjadi pilar berdirinya keluarga yang tangguh dan berkualitas,” tuturnya.

Lebih lanjut, perempuan yang meraih gelar doktoral di bidang ilmu keluarga ini menjelaskan adanya dua fungsi orang tua dalam keluarga yaitu fungsi instrumental yang bersifat fungsional dan rasional berkaitan dengan pemenuhan kebutuhan praktis, ekonomi, dan struktural keluarga. Biasanya berhubungan dengan tugas menjaga keberlangsungan hidup keluarga secara materi dan sosial. Dan fungsi ekspresif (afektif) yang berkaitan dengan pemenuhan kebutuhan emosional, kasih sayang, dan hubungan sosial dalam keluarga. Fungsi ini berperan dalam membangun ikatan batin, keharmonisan, dan stabilitas psikologis seluruh anggota keluarga.

“Secara natural fungsi instrumental lebih dominan dilakukan ayah dan fungsi ekspresif lebih di dominasi ibu. Dalam pelaksanaannya kedua fungsi ini tidak bisa dipisahkan. Keduanya harus dijalankan seimbang oleh ayah dan ibu,” jelasnya.

Ketidakhadiran ayah dalam keluarga bukan sekadar ketiadaan sosok laki-laki di rumah, tetapi hilangnya figur penting yang berfungsi sebagai penuntun, pelindung, dan penyeimbang dalam tumbuh kembang anak.

“Selain menjadi figur bagi anak, ayah memiliki peran unik yang berbeda dari ibu. Ia lebih banyak menanamkan rasa percaya diri, disiplin, tanggung jawab, dan kemampuan anak dalam menghadapi tantangan hidup,” tambah Eko.

Ketika ayah tidak hadir, baik secara fisik maupun emosional, anak sering kali tumbuh dengan perasaan kehilangan arah dan kekosongan emosional. Mereka cenderung mencari figur pengganti di luar keluarga, yang tidak selalu membawa pengaruh positif. Banyak penelitian menunjukkan bahwa anak-anak tanpa peran ayah yang aktif memiliki risiko lebih tinggi mengalami masalah perilaku, kesulitan mengelola emosi, rendahnya kepercayaan diri, serta kesulitan membangun hubungan sosial yang sehat.

Dalam jangka panjang, ketidakhadiran ayah juga dapat menimbulkan dampak psikologis yang mendalam. Anak laki-laki berpotensi mengalami kebingungan identitas dan kesulitan memahami makna tanggung jawab sebagai laki-laki, sementara anak perempuan sering kali kehilangan rasa aman dan penghargaan diri, yang bisa memengaruhi cara mereka membangun relasi di masa depan.

Eko juga berharap pemerintah berperan lebih besar dalam menghadirkan kembali ayah di keluarga.

“Kami memberikan apresiasi kepada pemerintah yang telah meluncurkan Gerakan Ayah Teladan Indonesia (GATI). Namun penajaman lingkup ayah teladan perlu diperluas mulai dari penguatan perannya sebagai pemimpin dalam keluarga. Perlu adanya program edukasi pengasuhan bagi ayah, regulasi jam kerja yang memungkinkan keterlibatan harian ayah dalam keluarga, serta kampanye untuk mengembangkan kesadaran pentingnya kehadiran ayah di keluarga,” tutupnya.

Berita Populer

Gerakan Kepanduan Indonesia : Dari Scouting Movement hingga Kepanduan PKS

PKS Sidoarjo Dorong Program Gizi Nasional: Lukman Hadi Pantau Kesiapan Makan Bergizi Gratis di Krembung

Pengamanan Dalam Sejarah Islam,Strategi Bela Negara Ala Rasulullah SAW