Berita Terbaru

Hari Bumi di Sidoarjo: Antara Lumpur, Limbah, dan Pilihan yang Kita Ambil

Gambar
Hari Bumi kembali hadir, dan seperti tahun-tahun sebelumnya, ia sering dirayakan dengan narasi penuh harapan. Namun bagi Sidoarjo, Hari Bumi seharusnya tidak berhenti pada simbol. Ia mesti menjadi cermin yang jujur: sejauh mana kita benar-benar belajar dari pengalaman, dan sejauh mana kita masih sekadar beradaptasi dengan masalah. Sidoarjo bukan wilayah yang asing dengan isu lingkungan. Kita pernah menjadi sorotan dunia karena tragedi lumpur panas, sekaligus tumbuh sebagai kawasan industri dan permukiman yang dinamis. Pertumbuhan ini membawa konsekuensi nyata: persoalan sampah rumah tangga, tekanan terhadap sungai, penurunan kualitas udara, hingga banjir musiman yang terus berulang. Di tengah situasi ini, kita sering menggantungkan harapan pada solusi besar. Padahal, krisis lingkungan tidak hanya lahir dari sistem yang besar, tetapi juga dari kebiasaan kecil yang kita ulang setiap hari. Sampah yang menyumbat saluran dan limbah yang mencemari lingkungan sering kali berawal dari rumah ki...

Bangun Kembali Peran Ayah, PKS Ajak Masyarakat Kokohkan Fungsi Keluarga untuk Atasi Fenomena Fatherless

 

JAKARTA — Fenomena fatherless atau ketidakhadiran figur dan peran ayah dalam kehidupan anak, kian menjadi persoalan serius di Indonesia. Mengutip data olahan Kompas dari data Mikro Survei Sosial Ekonomi Nasional Badan Pusat Statistik (Susenas BPS) Maret 2024, anak Indonesia yang fatherless ini setara 20,1 persen dari total 79,4 juta anak berusia kurang dari 18 tahun. Dari 15,9 juta anak fatherless, 4,4 juta anak tinggal di keluarga tanpa ayah. Sementara itu, 11,5 juta anak lain tinggal bersama ayah dengan jam kerja lebih dari 60 jam per minggu atau lebih dari 12 jam per hari.

Menanggapi fenomena ini Ketua DPP PKS Bidang Perempuan dan Keluarga (BIPEKA), Eko Yuliarti, mengatakan bahwa masyarakat harus lebih peduli dengan kehadiran ayah di keluarga.

“Ayah merupakan sosok utama dan penting dalam keluarga. Ia adalah sosok laki-laki pertama yang dikenal oleh semua anak di dunia. Bersama dengan ibu, ayah menjadi pilar berdirinya keluarga yang tangguh dan berkualitas,” tuturnya.

Lebih lanjut, perempuan yang meraih gelar doktoral di bidang ilmu keluarga ini menjelaskan adanya dua fungsi orang tua dalam keluarga yaitu fungsi instrumental yang bersifat fungsional dan rasional berkaitan dengan pemenuhan kebutuhan praktis, ekonomi, dan struktural keluarga. Biasanya berhubungan dengan tugas menjaga keberlangsungan hidup keluarga secara materi dan sosial. Dan fungsi ekspresif (afektif) yang berkaitan dengan pemenuhan kebutuhan emosional, kasih sayang, dan hubungan sosial dalam keluarga. Fungsi ini berperan dalam membangun ikatan batin, keharmonisan, dan stabilitas psikologis seluruh anggota keluarga.

“Secara natural fungsi instrumental lebih dominan dilakukan ayah dan fungsi ekspresif lebih di dominasi ibu. Dalam pelaksanaannya kedua fungsi ini tidak bisa dipisahkan. Keduanya harus dijalankan seimbang oleh ayah dan ibu,” jelasnya.

Ketidakhadiran ayah dalam keluarga bukan sekadar ketiadaan sosok laki-laki di rumah, tetapi hilangnya figur penting yang berfungsi sebagai penuntun, pelindung, dan penyeimbang dalam tumbuh kembang anak.

“Selain menjadi figur bagi anak, ayah memiliki peran unik yang berbeda dari ibu. Ia lebih banyak menanamkan rasa percaya diri, disiplin, tanggung jawab, dan kemampuan anak dalam menghadapi tantangan hidup,” tambah Eko.

Ketika ayah tidak hadir, baik secara fisik maupun emosional, anak sering kali tumbuh dengan perasaan kehilangan arah dan kekosongan emosional. Mereka cenderung mencari figur pengganti di luar keluarga, yang tidak selalu membawa pengaruh positif. Banyak penelitian menunjukkan bahwa anak-anak tanpa peran ayah yang aktif memiliki risiko lebih tinggi mengalami masalah perilaku, kesulitan mengelola emosi, rendahnya kepercayaan diri, serta kesulitan membangun hubungan sosial yang sehat.

Dalam jangka panjang, ketidakhadiran ayah juga dapat menimbulkan dampak psikologis yang mendalam. Anak laki-laki berpotensi mengalami kebingungan identitas dan kesulitan memahami makna tanggung jawab sebagai laki-laki, sementara anak perempuan sering kali kehilangan rasa aman dan penghargaan diri, yang bisa memengaruhi cara mereka membangun relasi di masa depan.

Eko juga berharap pemerintah berperan lebih besar dalam menghadirkan kembali ayah di keluarga.

“Kami memberikan apresiasi kepada pemerintah yang telah meluncurkan Gerakan Ayah Teladan Indonesia (GATI). Namun penajaman lingkup ayah teladan perlu diperluas mulai dari penguatan perannya sebagai pemimpin dalam keluarga. Perlu adanya program edukasi pengasuhan bagi ayah, regulasi jam kerja yang memungkinkan keterlibatan harian ayah dalam keluarga, serta kampanye untuk mengembangkan kesadaran pentingnya kehadiran ayah di keluarga,” tutupnya.

Berita Populer

Gerakan Kepanduan Indonesia : Dari Scouting Movement hingga Kepanduan PKS

Pengamanan Dalam Sejarah Islam,Strategi Bela Negara Ala Rasulullah SAW

PKS Sidoarjo Dorong Program Gizi Nasional: Lukman Hadi Pantau Kesiapan Makan Bergizi Gratis di Krembung