Berita Terbaru

Hari Bumi di Sidoarjo: Antara Lumpur, Limbah, dan Pilihan yang Kita Ambil

Gambar
Hari Bumi kembali hadir, dan seperti tahun-tahun sebelumnya, ia sering dirayakan dengan narasi penuh harapan. Namun bagi Sidoarjo, Hari Bumi seharusnya tidak berhenti pada simbol. Ia mesti menjadi cermin yang jujur: sejauh mana kita benar-benar belajar dari pengalaman, dan sejauh mana kita masih sekadar beradaptasi dengan masalah. Sidoarjo bukan wilayah yang asing dengan isu lingkungan. Kita pernah menjadi sorotan dunia karena tragedi lumpur panas, sekaligus tumbuh sebagai kawasan industri dan permukiman yang dinamis. Pertumbuhan ini membawa konsekuensi nyata: persoalan sampah rumah tangga, tekanan terhadap sungai, penurunan kualitas udara, hingga banjir musiman yang terus berulang. Di tengah situasi ini, kita sering menggantungkan harapan pada solusi besar. Padahal, krisis lingkungan tidak hanya lahir dari sistem yang besar, tetapi juga dari kebiasaan kecil yang kita ulang setiap hari. Sampah yang menyumbat saluran dan limbah yang mencemari lingkungan sering kali berawal dari rumah ki...

Peringkat Indonesia Rendah di Medsos, PKS Dorong Integrasi Teknologi dan Sastra untuk Tingkatkan Etika Digital

 

TEGAL — Anggota Komisi X DPR RI dari Fraksi PKS, Abdul Fikri Faqih, menekankan pentingnya integrasi teknologi dengan pembelajaran bahasa dan sastra untuk mengatasi rendahnya etika masyarakat Indonesia dalam bermedia sosial.

Penegasan ini disampaikan dalam Workshop Pendidikan bertema “Pemanfaatan Teknologi dalam Pembelajaran Kebahasaan dan Kesastraan” yang digelar oleh Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen RI) pada Sabtu (25/10/2025) di Kota Tegal, Jawa Tengah.

Pria yang akrab disapa Fikri ini menyoroti temuan survei Microsoft 2020, di mana Indonesia menempati urutan ke-29 dari 32 negara dalam hal kaadaban bermedia sosial, bahkan menjadi yang paling tidak sopan di Asia Tenggara.

Ia menyebut, rendahnya etika digital ini dipicu oleh penggunaan media sosial untuk menyebar hoaks atau berita palsu, penipuan, hingga untuk memaki atau bullying.

“Inilah maka kemudian workshop seperti ini menjadi sangat penting, pemanfaatan teknologi dalam mendukung pembelajaran bahasa dan sastra,” kata legislator Partai Keadilan Sejahtera (PKS) ini.

Lebih lanjut, Fikri mengungkapkan sastra menjadi pendekatan yang sangat relevan karena berfungsi meningkatkan kemampuan berbahasa (memilih diksi dan ekspresi yang benar), meningkatkan cara berpikir kritis (tidak hanya mengambil sumber apa adanya), dan menumbuhkan empati sosial.

Legislator dari daerah pemilihan (Dapil) IX Jawa Tengah (Kota Tegal, Kabupaten Tegal, Kabupaten Brebes) ini juga mengingatkan bahwa sastra adalah cara untuk mengungkapkan nilai-nilai kehidupan.

Namun, implementasi teknologi dalam pembelajaran menghadapi tantangan serius, terutama masalah kesetaraan akses koneksi internet antara kota dan desa.

Selain itu, terdapat kendala kompatibilitas antara aplikasi yang disediakan pemerintah dengan gawai yang dimiliki masyarakat, serta kesenjangan pemahaman guru (gaptek), yang dinilai masih menggunakan model pembelajaran yang membosankan.

Fikri juga menyoroti adanya ironi di mana orang kaya di daerah sering membeli gawai berspesifikasi tinggi tetapi hanya digunakan untuk hal sederhana, sementara anak-anak muda di kota menggunakan gawai sederhana untuk memproduksi film hingga berbisnis online.

“Dengan berbagai cara, salah satunya melalui workshop ini, saya berharap seluruh pihak—penyelenggara pendidikan, pendidik, dan tenaga kependidikan—mendapatkan kesadaran dan sarana efektif untuk memanfaatkan teknologi dalam pembelajaran bahasa dan sastra, demi memajukan pendidikan di Indonesia,”pungkasnya.

Berita Populer

Gerakan Kepanduan Indonesia : Dari Scouting Movement hingga Kepanduan PKS

Pengamanan Dalam Sejarah Islam,Strategi Bela Negara Ala Rasulullah SAW

PKS Sidoarjo Dorong Program Gizi Nasional: Lukman Hadi Pantau Kesiapan Makan Bergizi Gratis di Krembung